Tuhan, apa agamamu?
Apa itu kematian? Ketidakberdayaan manusia untuk menghindar dari cengkramannya.
Sedang kehidupan seperti ruang tawa, ruang kekebasan untuk selanjutnya akan dibebat.
Kita seperti terperangkap, dalam dua dunia yang berhimpitan, pada fatamorgana yang melalaikan.
Apa itu kehidupan? Hanya sekedar menunggu giliran untuk menjadi bahan sanderaan atau menjadi raja-ratu seperti yang dijanjikan.
Sesederhana itukah ide Tuhan menciptakan manusia?
Di uji coba terlebih dahulu, sebelum di beri tempat yang layak atas perbuatan yang dilakukan.
Sesaat, kita di utus untuk memimpin, sedang kewajiban hanya untuk patuh pada perintah Tuhan.
Dan setan (azab neraka baginya) hanya bertugas mengoda manusia. Ah, dunia yang terlihat terlalu simpel.
Kita dengan keegoisan dan akal yang selalu dibangga-banggakannya membuat semua menjadi rumit.
Menciptakan banyak agama, hingga anak baru lahir harus menanggung kesesatan yang dipelihara orang tuanya, yang kesesatan itu juga orang tuanya dapatkan dari kakek-neneknya. Atau sebaliknya, agama yang ia yakini ialah kebenaran sesungguhnya, atau keduanya salah.
Kita dengan keegoisan dan akal yang selalu di bangga-banggakan membuat semua menjadi rumit.
Dan menciptakan banyak agama dan Tuhan.
Sebagian lain dengan sombongnya berkata ialah Tuhan yang patut di sembah.
Sebagian lain mengaku ialah utusan Tuhan, ialah manusia pilihan, ialah Nabi selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya.
Sebagian lain mengaku bahwa ia mengerti ilmu akhirat, kemudian mengakui bahwa ia malaikat.
Sebagian lain tak percaya dengan sebagian yang lainnya, Tuhan, malaikat, nabi, agama, dan sebagian lainnya.
Baiknya, kita bertanya. Tuhan apa agamamu? Bolehkah kita berkenalan lebih dekat?
Dukun.
Sudah seharusnya kau tak perlu datang kepada dukun yang kebanyakan orang menyebutnya dengan istiah ramah: orang pintar. Walau sesungguhnya tak jelas tentang kepintaran apa yang yang ia miliki sampai dikatai orang pintar. Orang pintar yang tak tamat SD. Hahaha! Pintar meramal? Itu Cuma ilmu tebak.
Begitulah, aku juga sungguh merasa tak perlu datang kepadanya, dukun itu. Dukun yang dikatai orang pintar itu, tak cuma lihai dalam hal santet-menyantet, pelet-peletan, ramuan kolot, penyembuhan penyakit dalam sepersekian jam, kegaiban yang aneh, dan segala macam tetek bengek ilmu kedukunan lainnya. Nah, rupa-rupanya, dukun ahli bola juga ada. Prihal ini, aku tahu kemarin petang saat berkumpul dengan tim bola yang ku urusi. Maklum, aku tak jago mengilik sikulit bundar, tetapi pertarungan di lapangan hijau itu teramat seru untukku. Maka, jadilah aku mengurusi sebuah tim sepak bola remaja.
Mungkin, hari Kamis 10 Juli 2008 adalah hari duka terdalam bagi Perserikatan Dukun Tanah Air (kalau memang ada perserikatan dukun). Setidaknya hari itu Dukun AS tewas dieksekusi oleh Brimob kepolisian daerah Sumatera Utara, setelah divonis mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Lubuk Pakam karena mumbunuh wanita sebanyak 42 orang yang mayatnya ia tanam di kebun tebu. Ia mengaku membunuh wanita-wanita itu untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dipelajarinya. Harusnya ia membunuh 70 orang wanita (kurang 28 orang wanita lagi) dan mengisap air liur korban agar ilmu itu sempurna. Kau tahu, Dukun AS cuma lulusan SD. Hahahaha!
Dukun. Selalu saja menebarkan momok seram, atau mungkin kegamangan bagi sebagian orang. Dengan setelan baju berwarna hitam kelam, asesoris metal, gelang, kalung, kerabu, cincin dengan mata batu keramat. Klise. Tak jelas, dan konyol, tetapi tetap saja orang-orang mengatainya orang pintar.
“aku tahu dimana orang pintar yang paling pintar”
“oalah!”
“serius”
“Bukannya semua sama gobloknya”
“orang pintar, goblok!”
“orang pintar yang goblok”
“Nah, itu”
“Itu apanya?”
“orang pintarnya dukun, orang gobloknya situ”
“heh!”
“tapi ini serius, atau tim kita kalah”
“oalah! Main bola saja pakai jasa dukun segala”
“jangankan main bola, pejabat, konglomerat, bahkan presiden pun punya dukun pribadi”
“heh, jangan asal ceplos kamu”
“serius”
“goblok!”
“benar, gobloknya orang jatuh cinta pun banyak yang pakai dukun”
“cinta ditolak dukun bertindak itu namanya”
“Nah!”
“oalah!
“ada lagi”
“apa?”
“bahkan, orang yang kehilangan STNK, KTP, SIM, atau data diri lainnya, pasti secepatnya melapor ke dukun terdekat”
“hahaha… Edan!”
“jadi bagaimana? Jadi tidak?”
“apanya?”
“kita menyewa jasa dukun supaya tim kita menang”
Begitulah, aku sungguh merasa tak perlu datang kepadanya, dukun itu. Kata temanku, dukun itu bisa membuat sepasang kaki tim lawan menjadi berat, seperti terikat. Dan satu hal, agar gawangmu tak mudah kebobolan, meludahlah disetiap sudutnya, dan supaya gawang lawan mudah di jebol, kencinglah di sudut gawang lawan. Untuk hal ini, sebaiknya di lakukan pada paruh waktu kedua, setelah perpindahan gawang, dan sebaiknya suruhlah anak kecil yang mengencinginya. Percaya atau tidak, tergantung seberapa pintar kau ketimbang orang pintar.
Kelak, suatu saat, hari dimana kau akan mengerti bahwa cinta, kasih, sayang, atau apapun yang sederet dengan hal mengedepankan persoalan bagi-membagi, membagi hati, membagi perasaan, dan juga membagi gaji. Kau tahu apa itu setia? Bukan berarti tetap memberi kabar di kala berjauhan, atau mendekap erat di saat dekat. Atau sekedar mengingatkan makan siang. Kautau, setia itu mungkin lebih tepat hanya sebuah predikat yang digelarkan untuk seekor anjing. Dan ia, anjing itu, adalah hewan simbol kesetiaan. Sebab, suatu masa, di Jepang, seekor anjing tetap menunggu majikannya bahkan hingga sang majikan telah wafat, tanpa sepengetahuan anjing itu, dan ia tetap menunggu. Kukira ia anjing yang bodoh, namun orang mengira ia setia, lalu dijadikan ia simbol kesetiaan. Ah, persetan.
Ada saat untuk diamana kau tetap sabar menunggu, dan kau juga harus cukup pintar untuk tahu kapan kau harus pergi. Yang paling mengecewakan adalah menunggu yang tak pasti datang.
Tak sedikit penantian yang terabaikan, banyak sekali janji “berjumpa lagi” yang didustakan. Bukan masalah kau menunggu atau ditunggu, hanya saja janji setia yang di koar-koarkan banyak orang itu sering sekali teringkari. Aku bukan sedang kecewa, apalagi patah hati. Mengenal cinta, dan semacamnya saja aku enggan, apalagi menunggu seorang yang katanya setia untuk tetap datang.
Jangan dulu berjanji, ada saat berat untuk menepati.
Aku, Jupri, Jurning, dan Seekor Kucing.
Ia adalah Jurning, kepadanya lelaki bertanya soal rahasia wanita. Kepadanya pula sebagian wanita menanyakan soal gaya penampilan. Kau tahu, empat dari enam lelaki tak pernah kecewa dengan rahasia wanita yang ia ungkapkan, dan tujuh dari delapan wanita sepakat berikrar menjadikan Jurning sebagai kiblat mode penampilan. Aku menggangguk saja, waktu itu Jupri yang mencertiakan tentang Jurning kepadaku, katanya Jurning adalah perempuan ahli perasaan.
Terang saja aku penasaran, sejujurnya aku juga ingin menanyakan satu hal yang telah lama ku pendam. Mana tahu, Jurning bisa menjawabnya, atau paling tidak aku cukup mengenalnya. Kalau-kalau Jurning menjadi terkenal, setidaknya aku bisa angkat bicara kepada media, aku mengenalnya. Tak ada untungnya memang, tetapi pernah mengenal orang yang telah terkenal kurasa menjadi suatu kebanggaan, atau aku yang mengarang. Berikutnya, kepada Tuhan kita menyerahkan segalanya.
Aku sungguh merasa harus berpenampilan beda saat menemui Jurning, kurasa Jurning bukan orang biasa, setidaknya aku menaruh rasa penasaran padanya, pun omongan orang sekampung tak lepas dari Jurning, itu juga yang membuatku merasa Jurning bukanlah orang biasa, tentu pula aku harus berpenampilan beda saat menemuinya.
Aku mengenakan setelan baju berwarna biru berkerah, dua kancing di dada sengaja kubuka, dua-tiga-empat bulu dadaku menyembul dari sarangnya, kata orang (yang juga mereka ketahui dari Jurning) dengan gaya seperti ini seorang lelaki dikatai seksi. Celana hitam bercorak ke abu-abuan kukenakan, menutupi sekujur kaki dan bagian-bagian terlarang lainnya, aku mengira, haruskah aku membuka sedikit resleting celanaku sama persis seperti aku membuka sebagian kancing baju di bagian dada? Lalu, untuk apa wanita memamerkan sebagian buah dadanya dengan mengenakan gaun dengan belahan hingga ke bagian dua gunungnya? Kurasa, ini juga masih soal penampilan. Atau seperti ini, pria biasanya diperbolehkan untuk bertelanjang dada dalam berbagai tempat umum, sedangkan wanita tidak. Sebaliknya, biasanya wanita diperbolehkan memakai pakaian pria, sedangkan pria yang memakai pakaian wanita pastilah ia mengidap gangguan jiwa.
Begitulah, dengan penampilan beda (sebenarnya biasa-biasa saja) aku akan menemui Jurning di rumahnya malam ini. Sengaja ku ajak Jurpi untuk menemaniku, bukan apa-apa, hanya saja ia telah mengenal Jurning lebih dulu dariku. Setidaknya ia tak lebih canggung dariku saat menemui Jurning nantinya.
Wah! Jurpi tak kalah model, penampilannya seperti artis korea, atau artis (coro) indonesia yang (sok) kekorea-koreaan. Dengan setelan kaos oblong hijau dibalut jeket bulu hijau muda, celana panjang kuncup ujungnya, bersepatu pula ia. Sepertinya ini bukan musim dingin, mengapa ia kenakan jeket, sedangkan insulasi termal tak sedang menyerang.
Dengan gaya penampilan yang berbeda (sekali lagi, sebenarnya biasa-biasa saja) aku dan Jupri bertandang ke rumah Jurning.
(Tak perlulah ku terangkan akomodasi perjalanan ke rumah Jurning) Sesampainya di depan pintu rumah Jurning, tak ada penjaga atau seangkatannya, hanya ada seekor kucing yang merengek di depan pintu, mungkin ia ingin masuk, tersebab pintu tertutup. Jupri menyenggol bahuku, pertanya agar aku mengetuk pintu lebih dulu. Tak ada sahutan. Untuk ketukan ketiga, jika tak ada juga sahutan dari dalam rumah, menurut sabda baginda rasul (sallallahu alaihi wassalam), baiknya kita tinggalkan rumah tersebut. Aku balas menyenggol bahu Jupri, dan ia mengerti. Selang beberapa menit setelah ketukan kedua, belum juga ada jawaban dari dalam. Aku ragu dengan kalimat ini: “Lama aku mengetuknya, tak ada jawaban. Ternyata aku mengetuknya dari dalam”. Kemudian untuk ketukan ketiga, ketukan penentuan. Aku, Jupri, dan kucing yang terus merenggek itu berharap ketukan kami tersambut.
“Tok..tok…tok..” dan, tetap tak ada jawaban. Akhirnya kami pulang dengan kekecewaan, dan aku tetap bergumul dengan rasa penasaran. Kucing itu? Entahlah.
Bersambung.
Foto bukan hanya untuk dilihat, tapi juga untuk di hapus.
Jeda (Lelah)
Jeda, tanpa menunda. Semua butuh pemberhentian.
Seperti tanda koma di pertengahan kalimat panjang
atau waktu makan siang di sela-sela pekerjaan.
Terus melangkah, sesekali berhentilah.
Sekedar melepas penat atau meregangkan urat-urat yang menegang, misalnya.
Bukan menyerah, dan kalah.
Hanya menilik kembali apa yang telah terkerah, dan lelah.
Balon pun jika terus di pompa akan pecah
atau susu sapi yang terus diperah. Santai sajalah.
Aku pun tau, kita sesama punya tujuan yang tak mudah.
Terjal, aral, kurasa kau sudah kebal.
Aku tahu, kau sedang lelah.
Eh, kau tidak sedang tergesa-gesa, bukan?
Duduklah.
Kopi? Susu? Atau teh?
Kopi! pilihan yang tepat.
Ouh, dengan sedikit gula ya. Baiklah.
Ah, selera kita sama rupanya.
Atau jangan-jangan kau juga suka kopi pancung?
Cukup setengah gelas, dan pekat, mengendap.
Hamzah Fansuri, Ulama Besar Abad XVII
Peleng: Makanan khas suku Pak-pak.
Menapak Balik Sejarah Aceh Lewat Buku.
Tuhan Yang Maha Tuli
Tuhan, mungkin aku makhluk yang paling lancang, sampai berani menyebutMu tuli. Ya tapi tak apalah, paling tidak kenyataanya benar, manusia-manusia bergerombol memanjatkan doa kepadaMu, meminta mengakhiri peperangan, mengakhiri kelaparan, meminta keadilan. Hei Tuhan, apa kau mendengar doa-doa itu? Perang masih ada dimana-mana, bayi lahir cacat, manusia saling bunuh mengatasnamakan namaMu. Semua hal-hal itu semakin membuktikan kalau Kau Yang Maha Mendengar menjadi semakin jelas terlihat tuli dimataku.
Tuhan, dimana telingamu saat semua orang yang berdoa meminta keselamatan di dalam bis malah kau perosokkan ke dalam jurang. Dimana telingamu saat wanita-wanita di dalam angkot meminta keselamatan malah habis diperkosa. Dimana telingamu saat seorang balita meronta kesakitan karna penyakit yang kau beri. Hei Kau dengar itu bukan? Kau tidak mungkin menggunakan headset sambil mendengarkan lagu-lagu dari Bob Dylan. Apa kau memang benar-benar tuli?
Tuhan, aku bosan untuk datang kerumahmu. Aku lebih suka menebar doa-doaku di penghujung timeline, jejaring sosial bla..bla..bla.. Sepertinya kau harus punya twitter, atau mungkin facebook? Agar doa-doaku bisa kau dengar.
Tuhan, setidaknya kita sama. Sama-sama cacat, Kau tuli aku bisu. Bosan berbicara kepadaMu.
Source: serapah


